"Tinggal di Solo seperti suasana di desa saat saya kecil. Di jalan, ketemu teman dan ngobrol. Saat saya kecil, ke toko dengan ibu tak bisa sebentar. Perjalanan lima menit, bisa setengah jam. Ketemu pak itu, bu itu, ngobrol-ngobrol. Solo ya seperti itu," tambah Peter dalam bahasa Jawa.

Setiap pekan pada hari Kamis sore Peter mengajar gamelan, mulai kelas pemula sampai yang sudah lanjut, di Southbank Centre, pusat kebudayaan terbesar di Inggris.

Image copyrightKINGSTON UNIVERSITY MUSIC DEPARTMENTImage captionSelain mengajar di Southbank Centre, Peter juga mengajar di sejumlah universitas.
Sekitar 30 murid - sebagian besar orang Inggris- ikut kelas gamelan ini.

Sebagian membawa biskuit dan ada juga yang membawa kudapan Indonesia seperti tempe goreng dan dadar gulung untuk dinikmati saat istirahat.

"Dengan makanan seperti ini, suasana Indonesia terasa," kata salah seorang murid Peter.

Gamelan di Southbank Centre telah ada sejak awal tahun 1980-an dengan satu ruangan khusus untuk latihan gamelan. Di seluruh Inggris sendiri saat ini terdapat lebih dari 150 kelompok gamelan.

"Sampai di rumah (Oxford) jam satu pagi," kata Peter setelah selesai mengajar, satu jam menjelang tengah malam saat berjalan pulang menuju stasiun kereta di London.

Mari simak videonya! (BBC Indonesia)

" />

"Tinggal di Solo seperti suasana di desa saat saya kecil. Di jalan, ketemu teman dan ngobrol. Saat saya kecil, ke toko dengan ibu tak bisa sebentar. Perjalanan lima menit, bisa setengah jam. Ketemu pak itu, bu itu, ngobrol-ngobrol. Solo ya seperti itu," tambah Peter dalam bahasa Jawa.

Setiap pekan pada hari Kamis sore Peter mengajar gamelan, mulai kelas pemula sampai yang sudah lanjut, di Southbank Centre, pusat kebudayaan terbesar di Inggris.

Image copyrightKINGSTON UNIVERSITY MUSIC DEPARTMENTImage captionSelain mengajar di Southbank Centre, Peter juga mengajar di sejumlah universitas.
Sekitar 30 murid - sebagian besar orang Inggris- ikut kelas gamelan ini.

Sebagian membawa biskuit dan ada juga yang membawa kudapan Indonesia seperti tempe goreng dan dadar gulung untuk dinikmati saat istirahat.

"Dengan makanan seperti ini, suasana Indonesia terasa," kata salah seorang murid Peter.

Gamelan di Southbank Centre telah ada sejak awal tahun 1980-an dengan satu ruangan khusus untuk latihan gamelan. Di seluruh Inggris sendiri saat ini terdapat lebih dari 150 kelompok gamelan.

"Sampai di rumah (Oxford) jam satu pagi," kata Peter setelah selesai mengajar, satu jam menjelang tengah malam saat berjalan pulang menuju stasiun kereta di London.

Mari simak videonya! (BBC Indonesia)

" />

"Tinggal di Solo seperti suasana di desa saat saya kecil. Di jalan, ketemu teman dan ngobrol. Saat saya kecil, ke toko dengan ibu tak bisa sebentar. Perjalanan lima menit, bisa setengah jam. Ketemu pak itu, bu itu, ngobrol-ngobrol. Solo ya seperti itu," tambah Peter dalam bahasa Jawa.

Setiap pekan pada hari Kamis sore Peter mengajar gamelan, mulai kelas pemula sampai yang sudah lanjut, di Southbank Centre, pusat kebudayaan terbesar di Inggris.

Image copyrightKINGSTON UNIVERSITY MUSIC DEPARTMENTImage captionSelain mengajar di Southbank Centre, Peter juga mengajar di sejumlah universitas.
Sekitar 30 murid - sebagian besar orang Inggris- ikut kelas gamelan ini.

Sebagian membawa biskuit dan ada juga yang membawa kudapan Indonesia seperti tempe goreng dan dadar gulung untuk dinikmati saat istirahat.

"Dengan makanan seperti ini, suasana Indonesia terasa," kata salah seorang murid Peter.

Gamelan di Southbank Centre telah ada sejak awal tahun 1980-an dengan satu ruangan khusus untuk latihan gamelan. Di seluruh Inggris sendiri saat ini terdapat lebih dari 150 kelompok gamelan.

"Sampai di rumah (Oxford) jam satu pagi," kata Peter setelah selesai mengajar, satu jam menjelang tengah malam saat berjalan pulang menuju stasiun kereta di London.

Mari simak videonya! (BBC Indonesia)

" />