Sedangkan penganiayaan yang dilakukan terdakwa selain menyodomi, juga membenturkan kepala korban ke lantai dan tembok.

Selain itu dubur korban juga dimasuki obeng serta disolder yang terhubung dengan arus listrik kemudian diolesi balsam.

Tindakan sodomi dilakukan karena saat masa kecilnya, pelaku juga pernah menjadi korban sodomi tetangganya.

Terdakwa mengaku terangsang saat korban yang masih balita menangis sambil tengkurap.

Sementara dari hasil visum dokter korban mengalami luka retak di tulang tengkorak dan dan tulang iga.

Selain itu ada luka bakar di bagian dubur korban.

Sedangkan pertimbangan yang meringankan putusan hakim, terdakwa berterus terang selama persidangan dan menjadi tulang punggung keluarganya.

Sementara barang bukti sepeda motor dikembalikan kepada terdakwa.

Sedangkan barang bukti yang dipakai terdakwa melakukan kejahatan disita untuk dimusnahkan.

Majelis hakim berpendapat terdakwa secara sah dan menyakinkan telah melanggar pasal 80 ayat 1 UU No 35/2014 tentang Perlindungan Anak.

Sementara Ander Sumiwi Budi Prihatin,SH dan M Aksonul,SH menyatakan masih pikir-pikir dengan putusan majelis hakim yang menghukum 20 tahun penjara.

Sehingga penasehat huku bakal mengajukan banding.

Mengingat dalam UU No 35/1014 tentang Perlindungan Anak hukuman maksimalnya hanya 15 tahun penjara.

"Masih ada waktu 7 hari untuk memutuskan apakah kami menerima atau menolak putusan itu," jelasnya.

Sementara terkait dengan denda yang mencapai Rp 200 juta sesuai dengan latar belakang ekonomi keluarga sangat tidak memungkinkan dipenuhi.

Sehingga terdakwa akan menjalani dengan hukuman kurungan.

Dari penuturan Ander Sumiwi, terdakwa terlihat shock dengan putusan hukuman maksimal 20 tahun.

"Karena dihukum maksimal terdakwa kaget," ungkapnya.

Kasus sodomi dan pembunuhan anak balita ini sempat menyita perhatian masyarakat di Kota Kediri.

Malahan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar kemudian membentuk Satgas Perlindungan Anak di setiap kelurahan. (*)

" />

Sedangkan penganiayaan yang dilakukan terdakwa selain menyodomi, juga membenturkan kepala korban ke lantai dan tembok.

Selain itu dubur korban juga dimasuki obeng serta disolder yang terhubung dengan arus listrik kemudian diolesi balsam.

Tindakan sodomi dilakukan karena saat masa kecilnya, pelaku juga pernah menjadi korban sodomi tetangganya.

Terdakwa mengaku terangsang saat korban yang masih balita menangis sambil tengkurap.

Sementara dari hasil visum dokter korban mengalami luka retak di tulang tengkorak dan dan tulang iga.

Selain itu ada luka bakar di bagian dubur korban.

Sedangkan pertimbangan yang meringankan putusan hakim, terdakwa berterus terang selama persidangan dan menjadi tulang punggung keluarganya.

Sementara barang bukti sepeda motor dikembalikan kepada terdakwa.

Sedangkan barang bukti yang dipakai terdakwa melakukan kejahatan disita untuk dimusnahkan.

Majelis hakim berpendapat terdakwa secara sah dan menyakinkan telah melanggar pasal 80 ayat 1 UU No 35/2014 tentang Perlindungan Anak.

Sementara Ander Sumiwi Budi Prihatin,SH dan M Aksonul,SH menyatakan masih pikir-pikir dengan putusan majelis hakim yang menghukum 20 tahun penjara.

Sehingga penasehat huku bakal mengajukan banding.

Mengingat dalam UU No 35/1014 tentang Perlindungan Anak hukuman maksimalnya hanya 15 tahun penjara.

"Masih ada waktu 7 hari untuk memutuskan apakah kami menerima atau menolak putusan itu," jelasnya.

Sementara terkait dengan denda yang mencapai Rp 200 juta sesuai dengan latar belakang ekonomi keluarga sangat tidak memungkinkan dipenuhi.

Sehingga terdakwa akan menjalani dengan hukuman kurungan.

Dari penuturan Ander Sumiwi, terdakwa terlihat shock dengan putusan hukuman maksimal 20 tahun.

"Karena dihukum maksimal terdakwa kaget," ungkapnya.

Kasus sodomi dan pembunuhan anak balita ini sempat menyita perhatian masyarakat di Kota Kediri.

Malahan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar kemudian membentuk Satgas Perlindungan Anak di setiap kelurahan. (*)

" />

Sedangkan penganiayaan yang dilakukan terdakwa selain menyodomi, juga membenturkan kepala korban ke lantai dan tembok.

Selain itu dubur korban juga dimasuki obeng serta disolder yang terhubung dengan arus listrik kemudian diolesi balsam.

Tindakan sodomi dilakukan karena saat masa kecilnya, pelaku juga pernah menjadi korban sodomi tetangganya.

Terdakwa mengaku terangsang saat korban yang masih balita menangis sambil tengkurap.

Sementara dari hasil visum dokter korban mengalami luka retak di tulang tengkorak dan dan tulang iga.

Selain itu ada luka bakar di bagian dubur korban.

Sedangkan pertimbangan yang meringankan putusan hakim, terdakwa berterus terang selama persidangan dan menjadi tulang punggung keluarganya.

Sementara barang bukti sepeda motor dikembalikan kepada terdakwa.

Sedangkan barang bukti yang dipakai terdakwa melakukan kejahatan disita untuk dimusnahkan.

Majelis hakim berpendapat terdakwa secara sah dan menyakinkan telah melanggar pasal 80 ayat 1 UU No 35/2014 tentang Perlindungan Anak.

Sementara Ander Sumiwi Budi Prihatin,SH dan M Aksonul,SH menyatakan masih pikir-pikir dengan putusan majelis hakim yang menghukum 20 tahun penjara.

Sehingga penasehat huku bakal mengajukan banding.

Mengingat dalam UU No 35/1014 tentang Perlindungan Anak hukuman maksimalnya hanya 15 tahun penjara.

"Masih ada waktu 7 hari untuk memutuskan apakah kami menerima atau menolak putusan itu," jelasnya.

Sementara terkait dengan denda yang mencapai Rp 200 juta sesuai dengan latar belakang ekonomi keluarga sangat tidak memungkinkan dipenuhi.

Sehingga terdakwa akan menjalani dengan hukuman kurungan.

Dari penuturan Ander Sumiwi, terdakwa terlihat shock dengan putusan hukuman maksimal 20 tahun.

"Karena dihukum maksimal terdakwa kaget," ungkapnya.

Kasus sodomi dan pembunuhan anak balita ini sempat menyita perhatian masyarakat di Kota Kediri.

Malahan Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar kemudian membentuk Satgas Perlindungan Anak di setiap kelurahan. (*)

" />