Mengenakan pakaian batik berwarna dominan biru, ia menjelaskan, bahwa politik dinasti yang dominan sejak lama di Banten tak membawa kemajuan berarti bagi rakyat Banten yang letaknya tak jauh dari DKI Jakarta yang cenderung sudah modern.

Lebih jauh ia membandingkan dengan daerah lain seperti Bantaeng dan Pruwakarta, yang APBD-nya tak sebesar Banten bisa lebih maju dari Banten yang APBD tak sebesar dua wilayah itu.

"Banten yang kita lihat proses pertumbuhannya sangat lambat, bahkan boleh disebut tertinggal dari daerah lain. Padahal dia hanya sepelemparan batu dari DKI Jakarta, dengan APBD yang sebetulnya tidak bisa dibilang kecil," kata Ray Rangkuti.

"Karena lagi-lagi kalau kita belajar pada daerah-daerah yang APBD-nya bahkan mungkin ngga sampai (Rp) satu triliun pertahun, tapi dapat mengembangkan daerahnya masing-masing, sebut saja misalnya Pruwakarta, sebut saja seperti di Sulawesi Selatan, Bantaeng," tutur Ray Rangkuti.

Oleh sebab itu ia sangat yakin bahwa, politik dinasti cenderung lebih korup, karena naluri mengutamakan anggota dinasti keluarganya daripada rakyat banyak sangatlah dominan.

Dalam pilkada serentak 2017 kali ini, ia mengimbau masyarakat agar lebih cermat dalam memilih pemimpin daerahnya agar tidak terjebak pada politk dinasti yang merugikan tersebut. (*)

" />

Mengenakan pakaian batik berwarna dominan biru, ia menjelaskan, bahwa politik dinasti yang dominan sejak lama di Banten tak membawa kemajuan berarti bagi rakyat Banten yang letaknya tak jauh dari DKI Jakarta yang cenderung sudah modern.

Lebih jauh ia membandingkan dengan daerah lain seperti Bantaeng dan Pruwakarta, yang APBD-nya tak sebesar Banten bisa lebih maju dari Banten yang APBD tak sebesar dua wilayah itu.

"Banten yang kita lihat proses pertumbuhannya sangat lambat, bahkan boleh disebut tertinggal dari daerah lain. Padahal dia hanya sepelemparan batu dari DKI Jakarta, dengan APBD yang sebetulnya tidak bisa dibilang kecil," kata Ray Rangkuti.

"Karena lagi-lagi kalau kita belajar pada daerah-daerah yang APBD-nya bahkan mungkin ngga sampai (Rp) satu triliun pertahun, tapi dapat mengembangkan daerahnya masing-masing, sebut saja misalnya Pruwakarta, sebut saja seperti di Sulawesi Selatan, Bantaeng," tutur Ray Rangkuti.

Oleh sebab itu ia sangat yakin bahwa, politik dinasti cenderung lebih korup, karena naluri mengutamakan anggota dinasti keluarganya daripada rakyat banyak sangatlah dominan.

Dalam pilkada serentak 2017 kali ini, ia mengimbau masyarakat agar lebih cermat dalam memilih pemimpin daerahnya agar tidak terjebak pada politk dinasti yang merugikan tersebut. (*)

" />

Mengenakan pakaian batik berwarna dominan biru, ia menjelaskan, bahwa politik dinasti yang dominan sejak lama di Banten tak membawa kemajuan berarti bagi rakyat Banten yang letaknya tak jauh dari DKI Jakarta yang cenderung sudah modern.

Lebih jauh ia membandingkan dengan daerah lain seperti Bantaeng dan Pruwakarta, yang APBD-nya tak sebesar Banten bisa lebih maju dari Banten yang APBD tak sebesar dua wilayah itu.

"Banten yang kita lihat proses pertumbuhannya sangat lambat, bahkan boleh disebut tertinggal dari daerah lain. Padahal dia hanya sepelemparan batu dari DKI Jakarta, dengan APBD yang sebetulnya tidak bisa dibilang kecil," kata Ray Rangkuti.

"Karena lagi-lagi kalau kita belajar pada daerah-daerah yang APBD-nya bahkan mungkin ngga sampai (Rp) satu triliun pertahun, tapi dapat mengembangkan daerahnya masing-masing, sebut saja misalnya Pruwakarta, sebut saja seperti di Sulawesi Selatan, Bantaeng," tutur Ray Rangkuti.

Oleh sebab itu ia sangat yakin bahwa, politik dinasti cenderung lebih korup, karena naluri mengutamakan anggota dinasti keluarganya daripada rakyat banyak sangatlah dominan.

Dalam pilkada serentak 2017 kali ini, ia mengimbau masyarakat agar lebih cermat dalam memilih pemimpin daerahnya agar tidak terjebak pada politk dinasti yang merugikan tersebut. (*)

" />