Namun itu menjadi kebanggaan yang tak akan terlupakan seumur hidupnya.

"Saya sangat bangga, apalagi saat itu bisa berjabat tangan dengan Presiden dan pundak saya ditepuk ," jelasnya.

Sampai di rumah pun ia mengaku tak bisa tidur mengenang peristiwa tersebut.

"Saya selalu ingat, karena tidak menyangka apalagi mendapatkan hadiah sepeda dari Presiden, " jelas dia.

Ia menambahkan, momen bertemu dengan Presiden membuatnya sampai lupa makan.

"Kami tidak makan nasi sampai malam karena sudah tidak boleh keluar," jelas dia.

Mendapatkan hadiah sepeda berwarna emas dari Presiden menambah sukacitanya.

"Banyak yang tawarkan beli, tapi tidak akan jual karena ini kenang-kenangan dari Presiden, mungkin seumur hidup hanya kali ini mendapat seperti ini," jelas dia.

Ia akan menambahkan aksesoris bertuliskan Presiden RI di sepeda tersebut untuk mengingatkan.

Pengalaman yang sama dialami oleh Vecky Rumimpunu petani asal Ranowangko Tondano Timur, ia juga tiba di Wale Ne Tou jam setengah 12 siang dan tidak kebagian tiket masuk dan hanya menggunakan tiket milik temannya yang sudah di dalam.

"Saya pikir tidak bisa masuk, namun akhirnya diizinkan masuk setelah diperiksa di pintu masuk," jelas dia.

Tujuan utamanya bertemu dengan Presiden, namun kelihatannya mustahil bagi dirinya karena duduk di atas bagian belakang.

Pikirnya, kalau ada kesempatan langsung akan diambilnya yang penting bertemu dengan presiden.

"Saya tinggal duduk di tangga," jelas dia.

Kesempatan yang ditunggunya pun tiba, saat presiden meminta seorang petani ke depan, sontak ia langsung angkat tangan, berdiri, dan cepat berlari ke depan untuk bertemu Presiden.

Gugup pun mengikuti dirinya, sebab pikirnya pertanyaan yang akan diberikan Presiden seputaran pertanian.

Namun lain yang didapat, ia justru diminta untuk menghafalkan Pancasila.

"Saya gugup sekali, padahal hafal Pancasila, sampai di depan justru lupa," jelas dia.

Tepukan dan penguatan dari Presiden membuatnya menyelesaikan menghafal Pancasila meski dua kali ulang dan dibantu Presiden.

"Sampai di depan presiden pegang tangan saya dan cek, oh benar ini petani kata presiden," jelasnya.

Tepukan pundak oleh Jokowi tak pernah akan dilupakannya, apalagi sepeda yang diberikan oleh Presiden.

"Ada yang mau minta beli dan pinjam tapi saya tidak mau, karena ini pemberian Presiden belum tentu semua dapat, ini kenang-kenangan untuk saya," jelas dia.

Ia berencana akan menambahkan pernak pernik-Presiden di sepeda tersebut.

"Saya sudah pakai jalan-jalan," jelasnya sambil tersenyum.

Simak tayangan videonya di atas. (*)

" />

Namun itu menjadi kebanggaan yang tak akan terlupakan seumur hidupnya.

"Saya sangat bangga, apalagi saat itu bisa berjabat tangan dengan Presiden dan pundak saya ditepuk ," jelasnya.

Sampai di rumah pun ia mengaku tak bisa tidur mengenang peristiwa tersebut.

"Saya selalu ingat, karena tidak menyangka apalagi mendapatkan hadiah sepeda dari Presiden, " jelas dia.

Ia menambahkan, momen bertemu dengan Presiden membuatnya sampai lupa makan.

"Kami tidak makan nasi sampai malam karena sudah tidak boleh keluar," jelas dia.

Mendapatkan hadiah sepeda berwarna emas dari Presiden menambah sukacitanya.

"Banyak yang tawarkan beli, tapi tidak akan jual karena ini kenang-kenangan dari Presiden, mungkin seumur hidup hanya kali ini mendapat seperti ini," jelas dia.

Ia akan menambahkan aksesoris bertuliskan Presiden RI di sepeda tersebut untuk mengingatkan.

Pengalaman yang sama dialami oleh Vecky Rumimpunu petani asal Ranowangko Tondano Timur, ia juga tiba di Wale Ne Tou jam setengah 12 siang dan tidak kebagian tiket masuk dan hanya menggunakan tiket milik temannya yang sudah di dalam.

"Saya pikir tidak bisa masuk, namun akhirnya diizinkan masuk setelah diperiksa di pintu masuk," jelas dia.

Tujuan utamanya bertemu dengan Presiden, namun kelihatannya mustahil bagi dirinya karena duduk di atas bagian belakang.

Pikirnya, kalau ada kesempatan langsung akan diambilnya yang penting bertemu dengan presiden.

"Saya tinggal duduk di tangga," jelas dia.

Kesempatan yang ditunggunya pun tiba, saat presiden meminta seorang petani ke depan, sontak ia langsung angkat tangan, berdiri, dan cepat berlari ke depan untuk bertemu Presiden.

Gugup pun mengikuti dirinya, sebab pikirnya pertanyaan yang akan diberikan Presiden seputaran pertanian.

Namun lain yang didapat, ia justru diminta untuk menghafalkan Pancasila.

"Saya gugup sekali, padahal hafal Pancasila, sampai di depan justru lupa," jelas dia.

Tepukan dan penguatan dari Presiden membuatnya menyelesaikan menghafal Pancasila meski dua kali ulang dan dibantu Presiden.

"Sampai di depan presiden pegang tangan saya dan cek, oh benar ini petani kata presiden," jelasnya.

Tepukan pundak oleh Jokowi tak pernah akan dilupakannya, apalagi sepeda yang diberikan oleh Presiden.

"Ada yang mau minta beli dan pinjam tapi saya tidak mau, karena ini pemberian Presiden belum tentu semua dapat, ini kenang-kenangan untuk saya," jelas dia.

Ia berencana akan menambahkan pernak pernik-Presiden di sepeda tersebut.

"Saya sudah pakai jalan-jalan," jelasnya sambil tersenyum.

Simak tayangan videonya di atas. (*)

" />

Namun itu menjadi kebanggaan yang tak akan terlupakan seumur hidupnya.

"Saya sangat bangga, apalagi saat itu bisa berjabat tangan dengan Presiden dan pundak saya ditepuk ," jelasnya.

Sampai di rumah pun ia mengaku tak bisa tidur mengenang peristiwa tersebut.

"Saya selalu ingat, karena tidak menyangka apalagi mendapatkan hadiah sepeda dari Presiden, " jelas dia.

Ia menambahkan, momen bertemu dengan Presiden membuatnya sampai lupa makan.

"Kami tidak makan nasi sampai malam karena sudah tidak boleh keluar," jelas dia.

Mendapatkan hadiah sepeda berwarna emas dari Presiden menambah sukacitanya.

"Banyak yang tawarkan beli, tapi tidak akan jual karena ini kenang-kenangan dari Presiden, mungkin seumur hidup hanya kali ini mendapat seperti ini," jelas dia.

Ia akan menambahkan aksesoris bertuliskan Presiden RI di sepeda tersebut untuk mengingatkan.

Pengalaman yang sama dialami oleh Vecky Rumimpunu petani asal Ranowangko Tondano Timur, ia juga tiba di Wale Ne Tou jam setengah 12 siang dan tidak kebagian tiket masuk dan hanya menggunakan tiket milik temannya yang sudah di dalam.

"Saya pikir tidak bisa masuk, namun akhirnya diizinkan masuk setelah diperiksa di pintu masuk," jelas dia.

Tujuan utamanya bertemu dengan Presiden, namun kelihatannya mustahil bagi dirinya karena duduk di atas bagian belakang.

Pikirnya, kalau ada kesempatan langsung akan diambilnya yang penting bertemu dengan presiden.

"Saya tinggal duduk di tangga," jelas dia.

Kesempatan yang ditunggunya pun tiba, saat presiden meminta seorang petani ke depan, sontak ia langsung angkat tangan, berdiri, dan cepat berlari ke depan untuk bertemu Presiden.

Gugup pun mengikuti dirinya, sebab pikirnya pertanyaan yang akan diberikan Presiden seputaran pertanian.

Namun lain yang didapat, ia justru diminta untuk menghafalkan Pancasila.

"Saya gugup sekali, padahal hafal Pancasila, sampai di depan justru lupa," jelas dia.

Tepukan dan penguatan dari Presiden membuatnya menyelesaikan menghafal Pancasila meski dua kali ulang dan dibantu Presiden.

"Sampai di depan presiden pegang tangan saya dan cek, oh benar ini petani kata presiden," jelasnya.

Tepukan pundak oleh Jokowi tak pernah akan dilupakannya, apalagi sepeda yang diberikan oleh Presiden.

"Ada yang mau minta beli dan pinjam tapi saya tidak mau, karena ini pemberian Presiden belum tentu semua dapat, ini kenang-kenangan untuk saya," jelas dia.

Ia berencana akan menambahkan pernak pernik-Presiden di sepeda tersebut.

"Saya sudah pakai jalan-jalan," jelasnya sambil tersenyum.

Simak tayangan videonya di atas. (*)

" />