TRIBUN-VIDEO.COM - Seperti juga bentuk kemajuan lain, teknologi digital yang antara lain melibatkan komputer, aneka gadget, dan jaringan internet tak ubahnya pedang bermata dua.

Ia bisa menghasilkan manfaat, tapi tak jarang pula berbuah masalah buat penggunanya apabila tidak dipakai dengan bijak.

Akibatnya bisa sekedar salah paham menafsirkan hasil pencarian mesin pencari, hingga yang lebih gawat seperti penayangan video porno di billboard elektronik secara tidak sengaja.

Kemunculan teknologi digital juga kerap memicu pro-kontra, terlebih ketika kemajuan yang ditawarkan berpotensi mengancam pihak lain yang sudah mapan, atau sekedar memicu kontroversi. Pemblokiran dan demonstrasi pun bisa terjadi.

Tahun 2016 banyak diwarnai kehebohan atau peristiwa sensasional yang berkaitan dengan teknologi digital karena alasan di atas. Apa saja? Berikut ini beberapa di antaranya yang terekam oleh KompasTekno.

1. Pemblokiran Netflix

Awal Januari, Netflix resmi masuk Indonesia dalam waktu bersamaan dengan sejumlah negara lain di Asia Tenggara. Tapi kiprah penyedia layanan video streaming on-demand tersebut di jaringan Telkom dan Telkomsel cuma seumur jagung karena segera diblokir.

Adu argumen antara Telkom yang ngotot memblokir dan Netflix sempat menjadi perhatian netizen Tanah Air dan ramai diberitakan. HIngga kini, pelanggan Telkom (IndiHome) dan Telkomsel masih belum bisa menonton tayangan streaming dari Netflix.

Tak lama setelahnya, Telkom memboyong pesaing Netflix, yakni iFLix, ke Indonesia. Sementara, operator seluler anak usahanya, Telkomsel, melenggang dengan layanan serupa bernama Hooq.

2. Demo Tolak Taksi Online

Layanan ride sharing alias "taksi online" seperti Uber dan Grab kembali menuai pertentangan dari para pegawai perusahaan taksi. Bulan Maret, pertentangan itu memuncak menjadi sebuah demonstrasi yang digelar di Jakarta.

Para penyedia layanan ride sharing dipandang melanggar undang-undang tentang lalu lintas dan angkutan jalan karena tidak menjalani prosedur sebagai penyelenggaran transportasi.

Pemerintah berusaha berlaku adil ke semua pihak dengan mewajibkan uji kendaraan dan sejumlah syarat lain bagi penyedia ride sharing, sementara para pengusaha taksi konvensional diminta menyesuaikan diri dengan aplikasi digital berbasis internet.

Belakangan, taksi konvensional mulai bekerjasama dengan penyedia ride sharing, seperti Blue Bird yang bermitra dengan Go-Jek dan Express yang menggandeng Uber.

3. Fahri Hamzah Mengaku Steve Jobs

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah didepak dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada bulan April 2016.

Menanggapi pemecatan itu, Fahri malah menyebutkan bahwa dirinya mirip dengan pendiri Apple, Steve Jobs, yang awalnya keluar tapi kembali untuk membesarkan perusahaannya.

Pernyataan Fahri yang sebatas menyinggung seorang tokoh di dunia teknologi menarik untuk ditelisik meskipun di antara keduanya terdapat perbedaan mendasar. Fahri adalah politisi, sementara Jobs merupakan pimpinan perusahaan.

4. Argo Kuda Mobil Uber

Nama Uber kembali mencuat pada pertengahan tahun ini di bulan Agustus. Seorang pelanggan mengeluh dikerjai sopir nakal yang tidak melakukan "end trip" ketika perjalanan sudah selesai.

Walhasil, si pelanggan menghadapi tagihan kartu kredit sebesar hampir Rp 600.000 untuk perjalanan Uber tersebut, meski sebenarnya hanya menempuh rute pendek dengan biaya Rp 18.000.

Kejadian "argo kuda" serupa sebenarnya sudah banyak terjadi sebelumnya, namun kali ini menuai banyak perhatian karena angka kerugian pelangggan yang relatif tinggi.

5. Iklan "Zombie" Grab

Penyedia layanan ojek online Grab menuai kecaman netizen Indonesia ketika menayangkan video iklan bertajuk #PilihAman di YouTube dan Facebook, bulan September lalu.

Warga maya menilai iklan tersebut melecehkan jasa ojek pangkalan yang digambarkan seakan tidak aman, dibandingkan dengan Grab. Selain itu, visualisasi penumpang sebagai "zombie" yang berdarah-darah dipandang tak layak konsumsi untuk kalangan muda. 

Grab bereaksi dengan menarik iklan dan menayangkan versi revisi yang berdurasi lebih singkat, hanya 15 detik (dibanding versi original sepanjang 45 detik). Scene "zombie" yang menimbulkan kontroversi ikut dihapus.

6. Video Porno di Videotron

Warga yang melintas di daerak Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dibuat kaget dengan penayangan video mesum di layar raksasa sebuah billboard elektronik (videotron), September lalu.

Foto dan video kejadian tersebut ikut beredar di jagar media sosial dan menimbulkan kehebohan. Tak cuma di Tanah Air, sejumlah media asing pun menurunkan berita tentang kejadian memalukan tersebut.

Usut punya usut, rupanya seorang operator lalai memutus sambungan remote antara komputernya dengan layar videotron ketika menyalurkan syahwat.

7. Kontroversi Sungai Bersih karena Foke

Nama mantan gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke mencuat ke permukaan pada awal Oktober gara-gara mesin pencari Google menganjurkan netizen mengganti nama "Foke" dengan "Ahok" ketika melakukan searching terkait siapa yang membersihkan sungai-sungai di Jakarta.

Sebelumnya, calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memang pernah berkomentar bahwa Foke berjasa mencanangkan program pembersihan sungai.

Sebagian netizen Indonesia rupanya tidak setuju dengan pernyataan Anies ."Anjuran" Google untuk mengganti nama Foke dengan Ahok pun dijadikan "bukti", tentu dengan nada bercanda.

8. Om Telolet Om

Memasuki penghujung tahun, kembali terjadi kehebohan yang lebih bernada positif. Kali ini, fenomena "om telolet om" yang berakar dari kebiasaan anak-anak di Indonesia meminta sopir bus antar kota membunyikan klakson telah merambah ke luar negeri berkat internet.

Selebriti manca negara tak ketinggalan meramaikan tren "om telolet om" melalui media sosial masing-masing. Aneka video kreatif bertema "om telolet om" yang menghibur pun bermunculan.

"Telolet" sendiri adalah isitilah yang mengacu pada nada klakson bus antar kota. Om telolet om bahkan sempat menduduki posisi teratas tangga trending topic Twitter untuk wilayah dunia (worldwide). (*)

" />

TRIBUN-VIDEO.COM - Seperti juga bentuk kemajuan lain, teknologi digital yang antara lain melibatkan komputer, aneka gadget, dan jaringan internet tak ubahnya pedang bermata dua.

Ia bisa menghasilkan manfaat, tapi tak jarang pula berbuah masalah buat penggunanya apabila tidak dipakai dengan bijak.

Akibatnya bisa sekedar salah paham menafsirkan hasil pencarian mesin pencari, hingga yang lebih gawat seperti penayangan video porno di billboard elektronik secara tidak sengaja.

Kemunculan teknologi digital juga kerap memicu pro-kontra, terlebih ketika kemajuan yang ditawarkan berpotensi mengancam pihak lain yang sudah mapan, atau sekedar memicu kontroversi. Pemblokiran dan demonstrasi pun bisa terjadi.

Tahun 2016 banyak diwarnai kehebohan atau peristiwa sensasional yang berkaitan dengan teknologi digital karena alasan di atas. Apa saja? Berikut ini beberapa di antaranya yang terekam oleh KompasTekno.

1. Pemblokiran Netflix

Awal Januari, Netflix resmi masuk Indonesia dalam waktu bersamaan dengan sejumlah negara lain di Asia Tenggara. Tapi kiprah penyedia layanan video streaming on-demand tersebut di jaringan Telkom dan Telkomsel cuma seumur jagung karena segera diblokir.

Adu argumen antara Telkom yang ngotot memblokir dan Netflix sempat menjadi perhatian netizen Tanah Air dan ramai diberitakan. HIngga kini, pelanggan Telkom (IndiHome) dan Telkomsel masih belum bisa menonton tayangan streaming dari Netflix.

Tak lama setelahnya, Telkom memboyong pesaing Netflix, yakni iFLix, ke Indonesia. Sementara, operator seluler anak usahanya, Telkomsel, melenggang dengan layanan serupa bernama Hooq.

2. Demo Tolak Taksi Online

Layanan ride sharing alias "taksi online" seperti Uber dan Grab kembali menuai pertentangan dari para pegawai perusahaan taksi. Bulan Maret, pertentangan itu memuncak menjadi sebuah demonstrasi yang digelar di Jakarta.

Para penyedia layanan ride sharing dipandang melanggar undang-undang tentang lalu lintas dan angkutan jalan karena tidak menjalani prosedur sebagai penyelenggaran transportasi.

Pemerintah berusaha berlaku adil ke semua pihak dengan mewajibkan uji kendaraan dan sejumlah syarat lain bagi penyedia ride sharing, sementara para pengusaha taksi konvensional diminta menyesuaikan diri dengan aplikasi digital berbasis internet.

Belakangan, taksi konvensional mulai bekerjasama dengan penyedia ride sharing, seperti Blue Bird yang bermitra dengan Go-Jek dan Express yang menggandeng Uber.

3. Fahri Hamzah Mengaku Steve Jobs

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah didepak dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada bulan April 2016.

Menanggapi pemecatan itu, Fahri malah menyebutkan bahwa dirinya mirip dengan pendiri Apple, Steve Jobs, yang awalnya keluar tapi kembali untuk membesarkan perusahaannya.

Pernyataan Fahri yang sebatas menyinggung seorang tokoh di dunia teknologi menarik untuk ditelisik meskipun di antara keduanya terdapat perbedaan mendasar. Fahri adalah politisi, sementara Jobs merupakan pimpinan perusahaan.

4. Argo Kuda Mobil Uber

Nama Uber kembali mencuat pada pertengahan tahun ini di bulan Agustus. Seorang pelanggan mengeluh dikerjai sopir nakal yang tidak melakukan "end trip" ketika perjalanan sudah selesai.

Walhasil, si pelanggan menghadapi tagihan kartu kredit sebesar hampir Rp 600.000 untuk perjalanan Uber tersebut, meski sebenarnya hanya menempuh rute pendek dengan biaya Rp 18.000.

Kejadian "argo kuda" serupa sebenarnya sudah banyak terjadi sebelumnya, namun kali ini menuai banyak perhatian karena angka kerugian pelangggan yang relatif tinggi.

5. Iklan "Zombie" Grab

Penyedia layanan ojek online Grab menuai kecaman netizen Indonesia ketika menayangkan video iklan bertajuk #PilihAman di YouTube dan Facebook, bulan September lalu.

Warga maya menilai iklan tersebut melecehkan jasa ojek pangkalan yang digambarkan seakan tidak aman, dibandingkan dengan Grab. Selain itu, visualisasi penumpang sebagai "zombie" yang berdarah-darah dipandang tak layak konsumsi untuk kalangan muda. 

Grab bereaksi dengan menarik iklan dan menayangkan versi revisi yang berdurasi lebih singkat, hanya 15 detik (dibanding versi original sepanjang 45 detik). Scene "zombie" yang menimbulkan kontroversi ikut dihapus.

6. Video Porno di Videotron

Warga yang melintas di daerak Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dibuat kaget dengan penayangan video mesum di layar raksasa sebuah billboard elektronik (videotron), September lalu.

Foto dan video kejadian tersebut ikut beredar di jagar media sosial dan menimbulkan kehebohan. Tak cuma di Tanah Air, sejumlah media asing pun menurunkan berita tentang kejadian memalukan tersebut.

Usut punya usut, rupanya seorang operator lalai memutus sambungan remote antara komputernya dengan layar videotron ketika menyalurkan syahwat.

7. Kontroversi Sungai Bersih karena Foke

Nama mantan gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke mencuat ke permukaan pada awal Oktober gara-gara mesin pencari Google menganjurkan netizen mengganti nama "Foke" dengan "Ahok" ketika melakukan searching terkait siapa yang membersihkan sungai-sungai di Jakarta.

Sebelumnya, calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memang pernah berkomentar bahwa Foke berjasa mencanangkan program pembersihan sungai.

Sebagian netizen Indonesia rupanya tidak setuju dengan pernyataan Anies ."Anjuran" Google untuk mengganti nama Foke dengan Ahok pun dijadikan "bukti", tentu dengan nada bercanda.

8. Om Telolet Om

Memasuki penghujung tahun, kembali terjadi kehebohan yang lebih bernada positif. Kali ini, fenomena "om telolet om" yang berakar dari kebiasaan anak-anak di Indonesia meminta sopir bus antar kota membunyikan klakson telah merambah ke luar negeri berkat internet.

Selebriti manca negara tak ketinggalan meramaikan tren "om telolet om" melalui media sosial masing-masing. Aneka video kreatif bertema "om telolet om" yang menghibur pun bermunculan.

"Telolet" sendiri adalah isitilah yang mengacu pada nada klakson bus antar kota. Om telolet om bahkan sempat menduduki posisi teratas tangga trending topic Twitter untuk wilayah dunia (worldwide). (*)

" />

TRIBUN-VIDEO.COM - Seperti juga bentuk kemajuan lain, teknologi digital yang antara lain melibatkan komputer, aneka gadget, dan jaringan internet tak ubahnya pedang bermata dua.

Ia bisa menghasilkan manfaat, tapi tak jarang pula berbuah masalah buat penggunanya apabila tidak dipakai dengan bijak.

Akibatnya bisa sekedar salah paham menafsirkan hasil pencarian mesin pencari, hingga yang lebih gawat seperti penayangan video porno di billboard elektronik secara tidak sengaja.

Kemunculan teknologi digital juga kerap memicu pro-kontra, terlebih ketika kemajuan yang ditawarkan berpotensi mengancam pihak lain yang sudah mapan, atau sekedar memicu kontroversi. Pemblokiran dan demonstrasi pun bisa terjadi.

Tahun 2016 banyak diwarnai kehebohan atau peristiwa sensasional yang berkaitan dengan teknologi digital karena alasan di atas. Apa saja? Berikut ini beberapa di antaranya yang terekam oleh KompasTekno.

1. Pemblokiran Netflix

Awal Januari, Netflix resmi masuk Indonesia dalam waktu bersamaan dengan sejumlah negara lain di Asia Tenggara. Tapi kiprah penyedia layanan video streaming on-demand tersebut di jaringan Telkom dan Telkomsel cuma seumur jagung karena segera diblokir.

Adu argumen antara Telkom yang ngotot memblokir dan Netflix sempat menjadi perhatian netizen Tanah Air dan ramai diberitakan. HIngga kini, pelanggan Telkom (IndiHome) dan Telkomsel masih belum bisa menonton tayangan streaming dari Netflix.

Tak lama setelahnya, Telkom memboyong pesaing Netflix, yakni iFLix, ke Indonesia. Sementara, operator seluler anak usahanya, Telkomsel, melenggang dengan layanan serupa bernama Hooq.

2. Demo Tolak Taksi Online

Layanan ride sharing alias "taksi online" seperti Uber dan Grab kembali menuai pertentangan dari para pegawai perusahaan taksi. Bulan Maret, pertentangan itu memuncak menjadi sebuah demonstrasi yang digelar di Jakarta.

Para penyedia layanan ride sharing dipandang melanggar undang-undang tentang lalu lintas dan angkutan jalan karena tidak menjalani prosedur sebagai penyelenggaran transportasi.

Pemerintah berusaha berlaku adil ke semua pihak dengan mewajibkan uji kendaraan dan sejumlah syarat lain bagi penyedia ride sharing, sementara para pengusaha taksi konvensional diminta menyesuaikan diri dengan aplikasi digital berbasis internet.

Belakangan, taksi konvensional mulai bekerjasama dengan penyedia ride sharing, seperti Blue Bird yang bermitra dengan Go-Jek dan Express yang menggandeng Uber.

3. Fahri Hamzah Mengaku Steve Jobs

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fahri Hamzah didepak dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada bulan April 2016.

Menanggapi pemecatan itu, Fahri malah menyebutkan bahwa dirinya mirip dengan pendiri Apple, Steve Jobs, yang awalnya keluar tapi kembali untuk membesarkan perusahaannya.

Pernyataan Fahri yang sebatas menyinggung seorang tokoh di dunia teknologi menarik untuk ditelisik meskipun di antara keduanya terdapat perbedaan mendasar. Fahri adalah politisi, sementara Jobs merupakan pimpinan perusahaan.

4. Argo Kuda Mobil Uber

Nama Uber kembali mencuat pada pertengahan tahun ini di bulan Agustus. Seorang pelanggan mengeluh dikerjai sopir nakal yang tidak melakukan "end trip" ketika perjalanan sudah selesai.

Walhasil, si pelanggan menghadapi tagihan kartu kredit sebesar hampir Rp 600.000 untuk perjalanan Uber tersebut, meski sebenarnya hanya menempuh rute pendek dengan biaya Rp 18.000.

Kejadian "argo kuda" serupa sebenarnya sudah banyak terjadi sebelumnya, namun kali ini menuai banyak perhatian karena angka kerugian pelangggan yang relatif tinggi.

5. Iklan "Zombie" Grab

Penyedia layanan ojek online Grab menuai kecaman netizen Indonesia ketika menayangkan video iklan bertajuk #PilihAman di YouTube dan Facebook, bulan September lalu.

Warga maya menilai iklan tersebut melecehkan jasa ojek pangkalan yang digambarkan seakan tidak aman, dibandingkan dengan Grab. Selain itu, visualisasi penumpang sebagai "zombie" yang berdarah-darah dipandang tak layak konsumsi untuk kalangan muda. 

Grab bereaksi dengan menarik iklan dan menayangkan versi revisi yang berdurasi lebih singkat, hanya 15 detik (dibanding versi original sepanjang 45 detik). Scene "zombie" yang menimbulkan kontroversi ikut dihapus.

6. Video Porno di Videotron

Warga yang melintas di daerak Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dibuat kaget dengan penayangan video mesum di layar raksasa sebuah billboard elektronik (videotron), September lalu.

Foto dan video kejadian tersebut ikut beredar di jagar media sosial dan menimbulkan kehebohan. Tak cuma di Tanah Air, sejumlah media asing pun menurunkan berita tentang kejadian memalukan tersebut.

Usut punya usut, rupanya seorang operator lalai memutus sambungan remote antara komputernya dengan layar videotron ketika menyalurkan syahwat.

7. Kontroversi Sungai Bersih karena Foke

Nama mantan gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke mencuat ke permukaan pada awal Oktober gara-gara mesin pencari Google menganjurkan netizen mengganti nama "Foke" dengan "Ahok" ketika melakukan searching terkait siapa yang membersihkan sungai-sungai di Jakarta.

Sebelumnya, calon gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memang pernah berkomentar bahwa Foke berjasa mencanangkan program pembersihan sungai.

Sebagian netizen Indonesia rupanya tidak setuju dengan pernyataan Anies ."Anjuran" Google untuk mengganti nama Foke dengan Ahok pun dijadikan "bukti", tentu dengan nada bercanda.

8. Om Telolet Om

Memasuki penghujung tahun, kembali terjadi kehebohan yang lebih bernada positif. Kali ini, fenomena "om telolet om" yang berakar dari kebiasaan anak-anak di Indonesia meminta sopir bus antar kota membunyikan klakson telah merambah ke luar negeri berkat internet.

Selebriti manca negara tak ketinggalan meramaikan tren "om telolet om" melalui media sosial masing-masing. Aneka video kreatif bertema "om telolet om" yang menghibur pun bermunculan.

"Telolet" sendiri adalah isitilah yang mengacu pada nada klakson bus antar kota. Om telolet om bahkan sempat menduduki posisi teratas tangga trending topic Twitter untuk wilayah dunia (worldwide). (*)

" />