Standar kencantikan yang sempit dan enggak realistis
Masyarakat Korea cenderung punya standar yang sangat tinggi dan spesifik soal kecantikan, baik bentuk tubuh atau pun wajah.

Kulit: harus putih dan halus seperti porselen, juga harus lembab dan terlihat bersinar.
Wajah: bentuk rahang harus V-line (segi tiga), tulang hidung harus cukup tinggi tapi cuping harus lancip enggak boleh besar.
Mata harus bundar dan punya dua kelopak mata, alis lurus dan kening yang agak menonjol.
Tubuh: berbentuk S-line (punya lekuk), kurus dan pinggang kecil tapi bokong dan payudara harus berisi (tapi enggak boleh terlalu besar) lalu kaki harus langsing dan panjang.
 

Kalau kita sebagai cewek enggak memenuhi hal itu, siap-siap aja untuk menerima dengan lapang dada kalau kita dibilang jelek atau dipandang sebelah mata. Memang, umumnya para seleb cewek di Korea banyak yang memenuhi standar cantik ala Korea itu. Tapi tentu saja butuh usaha keras, mulai dari olaraga yang teratur, diet ketat hingga operasi plastik. Dan kalau ada seleb yang dirasa enggak memenuhi standar cantik tersebut, mereka akan jadi bulan-bulanan para netizen alias selau di-bully. Lihat saja betapa sempit dan kejamnya penilaian yang diberikan netizen pada penampilan para seleb cewek di situs netizenbuzz.blogspot.com. Misalnya CL ‘2NE1’ yang sering dihina karena wajahnya dianggap enggak memenuhi standar wajah cantik Korea, alias bertipe ras Mongolian (mata sipit, kelopak mata tunggal) dengan cuping hidung agak lebar.  Bahkan cewek pun dibilang akan marah besar kalau dia dibilang mirip CL. Atau Sohee mantan member Wonder Girls yang wajahnya sering dibilang ‘wajah tikus’ dan lainnya. Ironisnya, kalau ada seleb yang melakukan operasi plastik, mereka akan tetap dicela.

 

Kelopak mata ganda, hidung mancung dengan ujung yang bundar,
rahang berbentuk V seperti yang dimilik Irene 'Red Velvet'
ini yang dianggap cantik di Korea.
 

Selain bentuk wajah, warna kulit juga penting banget. Di Korea kulit yang sangat putih dan flawless adalah kulit yang dianggap cantik. Jadi kalau ada yang kulitnya agak gelap atau cokelat, biasanya dia akan diejek sebagai "si kulit gelap". Atau dibilang bukan orang Korea tapi lebih mirip orang Asia Tenggara yang berkulit cokelat. Hal ini sering dialami oleh Sooyoung ‘SNSD’ yang memang warna kulitnya agak lebih gelap kalau dibandingkan dengan warna kulit orang Korea yang umumnya putih pucat. Sooyoung sering diejek, "dia enggak kelihatan kayak seleb, bahkan enggak kelihatan kayak orang Korea, dia kayak orang Asia Tenggara," yang sebenarnya seharusnya enggak masalah, dong?

 

Korea juga sangat terobsesi dengan tubuh kurus. Tubuh cewek yang ideal menurut Korea adalah Tubuh: berbentuk S-line (punya lekuk), kurus dan pinggang kecil tapi bokong dan payudara harus berisi (tapi enggak boleh terlalu besar) lalu kaki harus langsing dan panjang. Gemuk seperti jadi 'tindakan kriminal.' Orang yang bertubuh gemuk cenderung di-bully, termasuk dalam pekerjaan. Contohnya saja, Lee Guk Joo, pelawak bertubuh gemuk yang merasa bahagia dengan tubuhnya. Guk Joo pernah mengalami body shaming yang parah karena melakukan pemotretan dengan majalah W Korea yang mengangkat tema seksi. “Ini salah”, “Uggh, aku merasa seperti ingin muntah. Ini menjijikkan” komentar para netizen. Untungnya, Guk Joo tetap bangga juga mencintai dirinya sendiri. “Aku sekarang merasa bahagia. Kamu melihat berat di tubuhku? Ini adalah kebahagiaan,” tegas Guk Joo.

Enggak Berani atau Enggak PD jadi Diri Sendiri
“Aku rasa Korea Selatan memiliki definisi yang sangat ketat dan sempit soal kecantikan, karena kami masyarakat dengan etnis yang homogen, sehingga semua orang tampak sama,” papar Joo Kwon, pendiri JK Plastic Surgery Center di Korea.

 

Minji seorang blogger yang tinggal di Korea, dalam tulisannya yang berjudul Challengging Korea’s Body Image di blog thegrandnarative.com juga bercerita kalau saat kita tinggal di Korea, kita akan selalu menerima komentar tentang berat badan. “Kamu gemukan!” atau “Kamu kurusan!” jadi sapaan umum saat bertemu seseorang. Diet adalah topik yang selalu dibahas dalam pembicaraan sehari-hari.

 

“Berbagai iklan selalu mempromosikan kecantikan yang enggak realistis untuk cewek dan cowok. Bahkan kalau kamu enggak terlihat seperti mereka, kamu akan didiskriminasi atau dicap sebagai seseorang yang harus menjalani operasi plastik. Mencintai diri sendiri itu dilarang, kecuali jika kamu punya tubuh seperti boneka Barbie. Banyak pesan dan suara dari luar atau pun dalam diri kita yang membuat kita menjadi enggak pede dengan penampilan fisik kita. Permak tubuh adalah hal yang biasa,” tulis Minji.

 

Standar kecantikan seperti itu memang agak enggak realistis. Tuntutan untuk memenuhi standar kecantikan yang sangat tinggi ini pun membuat banyak orang Korea, khususnya cewek yang akhirnya enggak berani atau PD untuk menerima fisik diri mereka apa adanya. Alhasil mereka pun jadi  memilih untuk melakukan operasi plastik. Bahkan untuk yang masih remaja pun, banyak di antara mereka yang sudah mengubah fitur wajahnya, minimal operasi kelopak mata dan hidung. Menurut International Society of Aesthetic Plastic Surgeons, 1 dari 5 atau sepertiga cewek di Korea Selatan melakukan operasi plastik dan ada 650 ribu orang dari berbagai negara datang ke Seoul setiap tahunnya untuk melakukan operasi plastik agar memenuhi standar kecantikan ala Korea.

Tipe Imut & Lucu Lebih Disukai
Enggak hanya masalah fisik, Korea juga punya tuntutan atau aturan tertentu tentang bagaimana karakater atau sifat cewek seharusnya. Di Korea cewek lebih disukai kalau punya karakter atau sifat lugu dan imut (innocent look dan cute). Korea memang masih punya stigma kalau cewek itu lebih baik enggak terlalu dominan atau bersikap malu-malu. Makanya lebih banyak seleb cewek Korea, khususnya Kpop idol cewek tampil dengan konsep atau imej imut, lugu dan malu-malu, daripada yang tampil sebagai cewek yang berani, cool, dan fierce. Meski pun ada beberapa yang berani tampil beda seperti Lee Hyori dan CL.  Makanya penting bagi cewek di Korea untuk punya aegyo (akting super imut) agar bisa disukai orang-orang atau banyak cowok khususnya.

 

Lihat saja girlband yang sekarang lagi trending atau hits banget di Korea seperti Twice dan GFriend, keduanya menampilkan imej imut dan lugu. Karena imej atau karakter cewek seperti itulah yang lebih disukai, daripada karakter yang berani, keren dan fierce. Atau lihat juga seleb-seleb cewek yang dianggap sebagai "Goddess" atau paling cantik di Korea. Ada Suzy yang dicap sebagai Nation First Love, IU sebagai Nation LIttle Sister atau Yoona dan Taeyeon SNSD yang dianggap sangat cantik dan patokan cewek yang sempurna. Mereka semua punya imej cewek yang manis, lugu dan 'baik-baik'.

 

Tapi ironisnya di balik keharusan terlihat imut dan lugu, si cewek ternyata harus bisa bertingkah seksi. Tapi seksinya harus diam-diam, soalnya kalau ada yang berani bertingkah atau punya imej seksi dan berani, umumnya mereka akan kembali dicaci sebagai bertindak enggak sopan atau enggak layak. Meskipun ada beberapa seleb cewek dengan imej seksi dan berani yang disukai di Korea seperti Hyuna dan Lee Hyori.

 

Contoh lainnya adalah ketika IU merilis lagu Twenty-three, di mana di dalamnya dia bercerita tentang tekanan bagi seleb cewek di Korea untuk tampil atau punya imej lugu dan imut kayak anak kecil, meskipun mereka aslinya sudah jadi cewek dewasa yang enggak mau lagi bersikap seperti itu. Tapi karena IU memakai pakaian seperti anak kecil di video klipnya, bukannya memunculkan wacana yang kritis soal tekanan tersebut, orang-orang malah menganggap IU sengaja memanfaatkan imej pedofil untuk menjual lagu-lagunya. Duh!

Double Standar
Double standar di sini maksudnya menerapkan standar aturan yang berbeda terhadap cewek dan cowok. Di mana cewek ada di posisi yang dirugikan. Misalnya kalau ada girlgroup yang melakukan koreografi seksi dengan pakaian yang seksi pasti akan banyak yang mencela dan menghina. Bilang mereka murahan, atau bilang mereka seperti pelacur. Intinya tindakan mereka dibilang sebagai tindakan yang melanggar norma dan enggak pantas. Sedangkan kalau ada boygroup yang menampilkan koreografi seksi bahkan buka baju di atas panggung, maka orang-orang akan memuji dan bilang mereka seksi juga keren. Seperti itulah, standarnya berbeda.

 

Atau bisa juga soal perilaku. Kalau ada seleb cewek yang lupa untuk bowing atau merunduk untuk hormat pada seniornya atau terlihat bete dan lelah saat tampil di sebuah acara di TV, para netizen akan langsung menghakimi dengan bilang mereka enggak sopan dan enggak tahu diri. Tapi kalau ada seleb cowok yang melakukan itu, maka fans atau netizen akan bilang kalau seleb tersebut lagi sakit atau lelah dan lain sebagainya.

 

Initinya jauh di dalam kehidupan masyarakat Korea, mereka sebenarnya masih menganut paham Confucianism atau Konfusianisme, di mana cowok dianggap lebih tinggi daripada cewek. Makanya, dalam dunia entertainment pun, seleb cowok punya keuntungan atau kebebasab lebih, di mana publik lebih bisa menerima ketika mereka melakukan kesalahan, sedangkan seleb cewek lebih mudah untuk dihakimi dan dicela saat mereka melakukan kesalahan, khususnya untuk soal penampilan fisik.

 

“Kebanyakan video Kpop menggambarkan cewek sebagai objek seks, termasuk para penyanyi cewek dan grup Kpop juga. Mereka banyak menjalani operasi plastik dan menari secara provokatif, tapi masih diharapkan untuk tetap memenuhi norma-norma Konfusianisme tentang perilaku seksual di dalam kehidupan pribadi mereka, sedangkan cowok bisa melakukan apa saja yang mereka mau,” ungkap Kevin Cawley, professor East Asian Studydi University College Cork di Irlandia.

Enggak Dapat Kesempatan yang Sama Dalam Pekerjaan
Cewek mendapatkan penilaian dan tuntutan yang lebih tinggi ketika mereka melamar pekerjaan. Ini kembali karena pengaruh ideologi Konfusianisme di mana cewek dianggap harus atau bertugas untuk mengurus rumah dan keluarga, sedangkan cowok harus jadi kepala keluarga dan bekerja. Akhirnya banyak perusahaan yang jadi ragu untuk mempekerjakan cewek atau mengangkat cewek sebagai pegawai tetap. Hal ini dikarenakan mereka percaya kalau pekerja cewek akan banyak yang mengundurkan diri setetelah mereka menikah dan punya anak. Bahkan biasanya dalam sesi wawancara, calon pekerja cewek selalu ditanya dengan detil soal rencana kapan mereka akan menikah dan punya anak. Kalau dalam jarak dekat, kemungkinan mereka enggak akan dipekerjakan. Hal ini pun akhirnya membuat Kementrian Tenaga Kerja Korea Selatan melarang para perusahan untuk menanyakan hal tersebut pada para pencari kerja cewek. Sayangnya memang pada kenyataannya, 22% cewek berhenti bekerja karena mempunyai anak dan 44% cewek berhenti bekerja setelah menikah.

 

Enggak hanya masalah kesempatan kerja, dalam hal gaji atau upah, Korea Selatan menempati posisi pertama untuk negara dengan wage gap (ketimpangan gaji/upa) antara pekerja cewek dan cowok paling tinggi di dunia. Di mana tentunya, cewek diberi gaji/upah jauh lebih rendah daripada cowok, meskipun jabatan atau posisi kerjanya sama. Berdasarkan Organisation for Economic Co-operation and Development  (OECD) dalam situsnya oced.org, ketimpangan penghasilan antara cewek dan cowok di Korea Selatan ini mencapai poin 36.60 melebihi Estonia di posisi kedua dengan poin 31.50, padahal Estonia adalah negara kecil di Eropa utara yang jauh belum maju kalau dibandingkan Korea. Hal ini jelas ironis, karena Korea Selatan memiliki presiden cewek dan termasuk negara sangat maju, tapi ternyata kesempatan kerja bagi cewek masih sangat sulit dan ketimpangan penghasilannya masih sangat tinggi.

Diskriminasi Gender dalam Hukum
Isu soal kestidaksetaraan gender antara cewek dan cowok di Korea juga berlaku di dunia hukum. Menurut Cang Pil Wha, direktur Asian Center for Women’s Studyioes di Ewha Womans University, Seoul, isu ini sudah jadi hal yang mengakar secara mental di masyarakat Korea. Contohnya aja soal kasus kerasan seksual dan pemerkosaan. Banyak kasus seperti ini dilupakan begitu saja hanya karena para jaksa di Korea didominasi oleh cowok. Mereka sering diyakinkan bahwa memberi hukuman yang parah pada cowok tersebut akan sangat memengaruhi kesempatan mereka untuk bisa bekerja dan hidup secara layak di masa depan padahal cowok itu diwajibkan jadi kepala keluarga. Contohnya dalam kasus kekerasan seksual yang dituduhkan pada Park Yoochun, aktor dan member JYJ yang kemungkinan besar akan dianggap enggak berasalah meskipun banyak cewek yang sudah melaporkannya.

 

Ternyata di balik megah dan gemerlapnya kehidupan industri hiburan di Korea juga kemajuan negara tersebut yang bisa dibilang sudah sangat maju dan modern, cewek masih mendapatkan banyak perlakuan yang enggak setara. Cewek juga masih dibebani tuntutan enggak realistis yang membuat mereka enggak berani atau enggak bebas untuk jadi diri sendiri. Tindakan body shaming, sexist (tindakan diskriminasi atau penghakiman negatif yang hanya didasarkan pada gender) dan mysogonist (tindakan yang membenci dan enggak mempercayai cewek) masih sangat sering dialami cewek di sana. Setelah tahu tentang hal ini, gimana pendapat kamu, girls? Ternyata hidup di Korea enggak sekeren dan seseru kelihatannya ya? Beri komen atau tanggapan kamu di kolom komentar ya! (Kawankumagz.com)

" />

Standar kencantikan yang sempit dan enggak realistis
Masyarakat Korea cenderung punya standar yang sangat tinggi dan spesifik soal kecantikan, baik bentuk tubuh atau pun wajah.

Kulit: harus putih dan halus seperti porselen, juga harus lembab dan terlihat bersinar.
Wajah: bentuk rahang harus V-line (segi tiga), tulang hidung harus cukup tinggi tapi cuping harus lancip enggak boleh besar.
Mata harus bundar dan punya dua kelopak mata, alis lurus dan kening yang agak menonjol.
Tubuh: berbentuk S-line (punya lekuk), kurus dan pinggang kecil tapi bokong dan payudara harus berisi (tapi enggak boleh terlalu besar) lalu kaki harus langsing dan panjang.
 

Kalau kita sebagai cewek enggak memenuhi hal itu, siap-siap aja untuk menerima dengan lapang dada kalau kita dibilang jelek atau dipandang sebelah mata. Memang, umumnya para seleb cewek di Korea banyak yang memenuhi standar cantik ala Korea itu. Tapi tentu saja butuh usaha keras, mulai dari olaraga yang teratur, diet ketat hingga operasi plastik. Dan kalau ada seleb yang dirasa enggak memenuhi standar cantik tersebut, mereka akan jadi bulan-bulanan para netizen alias selau di-bully. Lihat saja betapa sempit dan kejamnya penilaian yang diberikan netizen pada penampilan para seleb cewek di situs netizenbuzz.blogspot.com. Misalnya CL ‘2NE1’ yang sering dihina karena wajahnya dianggap enggak memenuhi standar wajah cantik Korea, alias bertipe ras Mongolian (mata sipit, kelopak mata tunggal) dengan cuping hidung agak lebar.  Bahkan cewek pun dibilang akan marah besar kalau dia dibilang mirip CL. Atau Sohee mantan member Wonder Girls yang wajahnya sering dibilang ‘wajah tikus’ dan lainnya. Ironisnya, kalau ada seleb yang melakukan operasi plastik, mereka akan tetap dicela.

 

Kelopak mata ganda, hidung mancung dengan ujung yang bundar,
rahang berbentuk V seperti yang dimilik Irene 'Red Velvet'
ini yang dianggap cantik di Korea.
 

Selain bentuk wajah, warna kulit juga penting banget. Di Korea kulit yang sangat putih dan flawless adalah kulit yang dianggap cantik. Jadi kalau ada yang kulitnya agak gelap atau cokelat, biasanya dia akan diejek sebagai "si kulit gelap". Atau dibilang bukan orang Korea tapi lebih mirip orang Asia Tenggara yang berkulit cokelat. Hal ini sering dialami oleh Sooyoung ‘SNSD’ yang memang warna kulitnya agak lebih gelap kalau dibandingkan dengan warna kulit orang Korea yang umumnya putih pucat. Sooyoung sering diejek, "dia enggak kelihatan kayak seleb, bahkan enggak kelihatan kayak orang Korea, dia kayak orang Asia Tenggara," yang sebenarnya seharusnya enggak masalah, dong?

 

Korea juga sangat terobsesi dengan tubuh kurus. Tubuh cewek yang ideal menurut Korea adalah Tubuh: berbentuk S-line (punya lekuk), kurus dan pinggang kecil tapi bokong dan payudara harus berisi (tapi enggak boleh terlalu besar) lalu kaki harus langsing dan panjang. Gemuk seperti jadi 'tindakan kriminal.' Orang yang bertubuh gemuk cenderung di-bully, termasuk dalam pekerjaan. Contohnya saja, Lee Guk Joo, pelawak bertubuh gemuk yang merasa bahagia dengan tubuhnya. Guk Joo pernah mengalami body shaming yang parah karena melakukan pemotretan dengan majalah W Korea yang mengangkat tema seksi. “Ini salah”, “Uggh, aku merasa seperti ingin muntah. Ini menjijikkan” komentar para netizen. Untungnya, Guk Joo tetap bangga juga mencintai dirinya sendiri. “Aku sekarang merasa bahagia. Kamu melihat berat di tubuhku? Ini adalah kebahagiaan,” tegas Guk Joo.

Enggak Berani atau Enggak PD jadi Diri Sendiri
“Aku rasa Korea Selatan memiliki definisi yang sangat ketat dan sempit soal kecantikan, karena kami masyarakat dengan etnis yang homogen, sehingga semua orang tampak sama,” papar Joo Kwon, pendiri JK Plastic Surgery Center di Korea.

 

Minji seorang blogger yang tinggal di Korea, dalam tulisannya yang berjudul Challengging Korea’s Body Image di blog thegrandnarative.com juga bercerita kalau saat kita tinggal di Korea, kita akan selalu menerima komentar tentang berat badan. “Kamu gemukan!” atau “Kamu kurusan!” jadi sapaan umum saat bertemu seseorang. Diet adalah topik yang selalu dibahas dalam pembicaraan sehari-hari.

 

“Berbagai iklan selalu mempromosikan kecantikan yang enggak realistis untuk cewek dan cowok. Bahkan kalau kamu enggak terlihat seperti mereka, kamu akan didiskriminasi atau dicap sebagai seseorang yang harus menjalani operasi plastik. Mencintai diri sendiri itu dilarang, kecuali jika kamu punya tubuh seperti boneka Barbie. Banyak pesan dan suara dari luar atau pun dalam diri kita yang membuat kita menjadi enggak pede dengan penampilan fisik kita. Permak tubuh adalah hal yang biasa,” tulis Minji.

 

Standar kecantikan seperti itu memang agak enggak realistis. Tuntutan untuk memenuhi standar kecantikan yang sangat tinggi ini pun membuat banyak orang Korea, khususnya cewek yang akhirnya enggak berani atau PD untuk menerima fisik diri mereka apa adanya. Alhasil mereka pun jadi  memilih untuk melakukan operasi plastik. Bahkan untuk yang masih remaja pun, banyak di antara mereka yang sudah mengubah fitur wajahnya, minimal operasi kelopak mata dan hidung. Menurut International Society of Aesthetic Plastic Surgeons, 1 dari 5 atau sepertiga cewek di Korea Selatan melakukan operasi plastik dan ada 650 ribu orang dari berbagai negara datang ke Seoul setiap tahunnya untuk melakukan operasi plastik agar memenuhi standar kecantikan ala Korea.

Tipe Imut & Lucu Lebih Disukai
Enggak hanya masalah fisik, Korea juga punya tuntutan atau aturan tertentu tentang bagaimana karakater atau sifat cewek seharusnya. Di Korea cewek lebih disukai kalau punya karakter atau sifat lugu dan imut (innocent look dan cute). Korea memang masih punya stigma kalau cewek itu lebih baik enggak terlalu dominan atau bersikap malu-malu. Makanya lebih banyak seleb cewek Korea, khususnya Kpop idol cewek tampil dengan konsep atau imej imut, lugu dan malu-malu, daripada yang tampil sebagai cewek yang berani, cool, dan fierce. Meski pun ada beberapa yang berani tampil beda seperti Lee Hyori dan CL.  Makanya penting bagi cewek di Korea untuk punya aegyo (akting super imut) agar bisa disukai orang-orang atau banyak cowok khususnya.

 

Lihat saja girlband yang sekarang lagi trending atau hits banget di Korea seperti Twice dan GFriend, keduanya menampilkan imej imut dan lugu. Karena imej atau karakter cewek seperti itulah yang lebih disukai, daripada karakter yang berani, keren dan fierce. Atau lihat juga seleb-seleb cewek yang dianggap sebagai "Goddess" atau paling cantik di Korea. Ada Suzy yang dicap sebagai Nation First Love, IU sebagai Nation LIttle Sister atau Yoona dan Taeyeon SNSD yang dianggap sangat cantik dan patokan cewek yang sempurna. Mereka semua punya imej cewek yang manis, lugu dan 'baik-baik'.

 

Tapi ironisnya di balik keharusan terlihat imut dan lugu, si cewek ternyata harus bisa bertingkah seksi. Tapi seksinya harus diam-diam, soalnya kalau ada yang berani bertingkah atau punya imej seksi dan berani, umumnya mereka akan kembali dicaci sebagai bertindak enggak sopan atau enggak layak. Meskipun ada beberapa seleb cewek dengan imej seksi dan berani yang disukai di Korea seperti Hyuna dan Lee Hyori.

 

Contoh lainnya adalah ketika IU merilis lagu Twenty-three, di mana di dalamnya dia bercerita tentang tekanan bagi seleb cewek di Korea untuk tampil atau punya imej lugu dan imut kayak anak kecil, meskipun mereka aslinya sudah jadi cewek dewasa yang enggak mau lagi bersikap seperti itu. Tapi karena IU memakai pakaian seperti anak kecil di video klipnya, bukannya memunculkan wacana yang kritis soal tekanan tersebut, orang-orang malah menganggap IU sengaja memanfaatkan imej pedofil untuk menjual lagu-lagunya. Duh!

Double Standar
Double standar di sini maksudnya menerapkan standar aturan yang berbeda terhadap cewek dan cowok. Di mana cewek ada di posisi yang dirugikan. Misalnya kalau ada girlgroup yang melakukan koreografi seksi dengan pakaian yang seksi pasti akan banyak yang mencela dan menghina. Bilang mereka murahan, atau bilang mereka seperti pelacur. Intinya tindakan mereka dibilang sebagai tindakan yang melanggar norma dan enggak pantas. Sedangkan kalau ada boygroup yang menampilkan koreografi seksi bahkan buka baju di atas panggung, maka orang-orang akan memuji dan bilang mereka seksi juga keren. Seperti itulah, standarnya berbeda.

 

Atau bisa juga soal perilaku. Kalau ada seleb cewek yang lupa untuk bowing atau merunduk untuk hormat pada seniornya atau terlihat bete dan lelah saat tampil di sebuah acara di TV, para netizen akan langsung menghakimi dengan bilang mereka enggak sopan dan enggak tahu diri. Tapi kalau ada seleb cowok yang melakukan itu, maka fans atau netizen akan bilang kalau seleb tersebut lagi sakit atau lelah dan lain sebagainya.

 

Initinya jauh di dalam kehidupan masyarakat Korea, mereka sebenarnya masih menganut paham Confucianism atau Konfusianisme, di mana cowok dianggap lebih tinggi daripada cewek. Makanya, dalam dunia entertainment pun, seleb cowok punya keuntungan atau kebebasab lebih, di mana publik lebih bisa menerima ketika mereka melakukan kesalahan, sedangkan seleb cewek lebih mudah untuk dihakimi dan dicela saat mereka melakukan kesalahan, khususnya untuk soal penampilan fisik.

 

“Kebanyakan video Kpop menggambarkan cewek sebagai objek seks, termasuk para penyanyi cewek dan grup Kpop juga. Mereka banyak menjalani operasi plastik dan menari secara provokatif, tapi masih diharapkan untuk tetap memenuhi norma-norma Konfusianisme tentang perilaku seksual di dalam kehidupan pribadi mereka, sedangkan cowok bisa melakukan apa saja yang mereka mau,” ungkap Kevin Cawley, professor East Asian Studydi University College Cork di Irlandia.

Enggak Dapat Kesempatan yang Sama Dalam Pekerjaan
Cewek mendapatkan penilaian dan tuntutan yang lebih tinggi ketika mereka melamar pekerjaan. Ini kembali karena pengaruh ideologi Konfusianisme di mana cewek dianggap harus atau bertugas untuk mengurus rumah dan keluarga, sedangkan cowok harus jadi kepala keluarga dan bekerja. Akhirnya banyak perusahaan yang jadi ragu untuk mempekerjakan cewek atau mengangkat cewek sebagai pegawai tetap. Hal ini dikarenakan mereka percaya kalau pekerja cewek akan banyak yang mengundurkan diri setetelah mereka menikah dan punya anak. Bahkan biasanya dalam sesi wawancara, calon pekerja cewek selalu ditanya dengan detil soal rencana kapan mereka akan menikah dan punya anak. Kalau dalam jarak dekat, kemungkinan mereka enggak akan dipekerjakan. Hal ini pun akhirnya membuat Kementrian Tenaga Kerja Korea Selatan melarang para perusahan untuk menanyakan hal tersebut pada para pencari kerja cewek. Sayangnya memang pada kenyataannya, 22% cewek berhenti bekerja karena mempunyai anak dan 44% cewek berhenti bekerja setelah menikah.

 

Enggak hanya masalah kesempatan kerja, dalam hal gaji atau upah, Korea Selatan menempati posisi pertama untuk negara dengan wage gap (ketimpangan gaji/upa) antara pekerja cewek dan cowok paling tinggi di dunia. Di mana tentunya, cewek diberi gaji/upah jauh lebih rendah daripada cowok, meskipun jabatan atau posisi kerjanya sama. Berdasarkan Organisation for Economic Co-operation and Development  (OECD) dalam situsnya oced.org, ketimpangan penghasilan antara cewek dan cowok di Korea Selatan ini mencapai poin 36.60 melebihi Estonia di posisi kedua dengan poin 31.50, padahal Estonia adalah negara kecil di Eropa utara yang jauh belum maju kalau dibandingkan Korea. Hal ini jelas ironis, karena Korea Selatan memiliki presiden cewek dan termasuk negara sangat maju, tapi ternyata kesempatan kerja bagi cewek masih sangat sulit dan ketimpangan penghasilannya masih sangat tinggi.

Diskriminasi Gender dalam Hukum
Isu soal kestidaksetaraan gender antara cewek dan cowok di Korea juga berlaku di dunia hukum. Menurut Cang Pil Wha, direktur Asian Center for Women’s Studyioes di Ewha Womans University, Seoul, isu ini sudah jadi hal yang mengakar secara mental di masyarakat Korea. Contohnya aja soal kasus kerasan seksual dan pemerkosaan. Banyak kasus seperti ini dilupakan begitu saja hanya karena para jaksa di Korea didominasi oleh cowok. Mereka sering diyakinkan bahwa memberi hukuman yang parah pada cowok tersebut akan sangat memengaruhi kesempatan mereka untuk bisa bekerja dan hidup secara layak di masa depan padahal cowok itu diwajibkan jadi kepala keluarga. Contohnya dalam kasus kekerasan seksual yang dituduhkan pada Park Yoochun, aktor dan member JYJ yang kemungkinan besar akan dianggap enggak berasalah meskipun banyak cewek yang sudah melaporkannya.

 

Ternyata di balik megah dan gemerlapnya kehidupan industri hiburan di Korea juga kemajuan negara tersebut yang bisa dibilang sudah sangat maju dan modern, cewek masih mendapatkan banyak perlakuan yang enggak setara. Cewek juga masih dibebani tuntutan enggak realistis yang membuat mereka enggak berani atau enggak bebas untuk jadi diri sendiri. Tindakan body shaming, sexist (tindakan diskriminasi atau penghakiman negatif yang hanya didasarkan pada gender) dan mysogonist (tindakan yang membenci dan enggak mempercayai cewek) masih sangat sering dialami cewek di sana. Setelah tahu tentang hal ini, gimana pendapat kamu, girls? Ternyata hidup di Korea enggak sekeren dan seseru kelihatannya ya? Beri komen atau tanggapan kamu di kolom komentar ya! (Kawankumagz.com)

" />

Standar kencantikan yang sempit dan enggak realistis
Masyarakat Korea cenderung punya standar yang sangat tinggi dan spesifik soal kecantikan, baik bentuk tubuh atau pun wajah.

Kulit: harus putih dan halus seperti porselen, juga harus lembab dan terlihat bersinar.
Wajah: bentuk rahang harus V-line (segi tiga), tulang hidung harus cukup tinggi tapi cuping harus lancip enggak boleh besar.
Mata harus bundar dan punya dua kelopak mata, alis lurus dan kening yang agak menonjol.
Tubuh: berbentuk S-line (punya lekuk), kurus dan pinggang kecil tapi bokong dan payudara harus berisi (tapi enggak boleh terlalu besar) lalu kaki harus langsing dan panjang.
 

Kalau kita sebagai cewek enggak memenuhi hal itu, siap-siap aja untuk menerima dengan lapang dada kalau kita dibilang jelek atau dipandang sebelah mata. Memang, umumnya para seleb cewek di Korea banyak yang memenuhi standar cantik ala Korea itu. Tapi tentu saja butuh usaha keras, mulai dari olaraga yang teratur, diet ketat hingga operasi plastik. Dan kalau ada seleb yang dirasa enggak memenuhi standar cantik tersebut, mereka akan jadi bulan-bulanan para netizen alias selau di-bully. Lihat saja betapa sempit dan kejamnya penilaian yang diberikan netizen pada penampilan para seleb cewek di situs netizenbuzz.blogspot.com. Misalnya CL ‘2NE1’ yang sering dihina karena wajahnya dianggap enggak memenuhi standar wajah cantik Korea, alias bertipe ras Mongolian (mata sipit, kelopak mata tunggal) dengan cuping hidung agak lebar.  Bahkan cewek pun dibilang akan marah besar kalau dia dibilang mirip CL. Atau Sohee mantan member Wonder Girls yang wajahnya sering dibilang ‘wajah tikus’ dan lainnya. Ironisnya, kalau ada seleb yang melakukan operasi plastik, mereka akan tetap dicela.

 

Kelopak mata ganda, hidung mancung dengan ujung yang bundar,
rahang berbentuk V seperti yang dimilik Irene 'Red Velvet'
ini yang dianggap cantik di Korea.
 

Selain bentuk wajah, warna kulit juga penting banget. Di Korea kulit yang sangat putih dan flawless adalah kulit yang dianggap cantik. Jadi kalau ada yang kulitnya agak gelap atau cokelat, biasanya dia akan diejek sebagai "si kulit gelap". Atau dibilang bukan orang Korea tapi lebih mirip orang Asia Tenggara yang berkulit cokelat. Hal ini sering dialami oleh Sooyoung ‘SNSD’ yang memang warna kulitnya agak lebih gelap kalau dibandingkan dengan warna kulit orang Korea yang umumnya putih pucat. Sooyoung sering diejek, "dia enggak kelihatan kayak seleb, bahkan enggak kelihatan kayak orang Korea, dia kayak orang Asia Tenggara," yang sebenarnya seharusnya enggak masalah, dong?

 

Korea juga sangat terobsesi dengan tubuh kurus. Tubuh cewek yang ideal menurut Korea adalah Tubuh: berbentuk S-line (punya lekuk), kurus dan pinggang kecil tapi bokong dan payudara harus berisi (tapi enggak boleh terlalu besar) lalu kaki harus langsing dan panjang. Gemuk seperti jadi 'tindakan kriminal.' Orang yang bertubuh gemuk cenderung di-bully, termasuk dalam pekerjaan. Contohnya saja, Lee Guk Joo, pelawak bertubuh gemuk yang merasa bahagia dengan tubuhnya. Guk Joo pernah mengalami body shaming yang parah karena melakukan pemotretan dengan majalah W Korea yang mengangkat tema seksi. “Ini salah”, “Uggh, aku merasa seperti ingin muntah. Ini menjijikkan” komentar para netizen. Untungnya, Guk Joo tetap bangga juga mencintai dirinya sendiri. “Aku sekarang merasa bahagia. Kamu melihat berat di tubuhku? Ini adalah kebahagiaan,” tegas Guk Joo.

Enggak Berani atau Enggak PD jadi Diri Sendiri
“Aku rasa Korea Selatan memiliki definisi yang sangat ketat dan sempit soal kecantikan, karena kami masyarakat dengan etnis yang homogen, sehingga semua orang tampak sama,” papar Joo Kwon, pendiri JK Plastic Surgery Center di Korea.

 

Minji seorang blogger yang tinggal di Korea, dalam tulisannya yang berjudul Challengging Korea’s Body Image di blog thegrandnarative.com juga bercerita kalau saat kita tinggal di Korea, kita akan selalu menerima komentar tentang berat badan. “Kamu gemukan!” atau “Kamu kurusan!” jadi sapaan umum saat bertemu seseorang. Diet adalah topik yang selalu dibahas dalam pembicaraan sehari-hari.

 

“Berbagai iklan selalu mempromosikan kecantikan yang enggak realistis untuk cewek dan cowok. Bahkan kalau kamu enggak terlihat seperti mereka, kamu akan didiskriminasi atau dicap sebagai seseorang yang harus menjalani operasi plastik. Mencintai diri sendiri itu dilarang, kecuali jika kamu punya tubuh seperti boneka Barbie. Banyak pesan dan suara dari luar atau pun dalam diri kita yang membuat kita menjadi enggak pede dengan penampilan fisik kita. Permak tubuh adalah hal yang biasa,” tulis Minji.

 

Standar kecantikan seperti itu memang agak enggak realistis. Tuntutan untuk memenuhi standar kecantikan yang sangat tinggi ini pun membuat banyak orang Korea, khususnya cewek yang akhirnya enggak berani atau PD untuk menerima fisik diri mereka apa adanya. Alhasil mereka pun jadi  memilih untuk melakukan operasi plastik. Bahkan untuk yang masih remaja pun, banyak di antara mereka yang sudah mengubah fitur wajahnya, minimal operasi kelopak mata dan hidung. Menurut International Society of Aesthetic Plastic Surgeons, 1 dari 5 atau sepertiga cewek di Korea Selatan melakukan operasi plastik dan ada 650 ribu orang dari berbagai negara datang ke Seoul setiap tahunnya untuk melakukan operasi plastik agar memenuhi standar kecantikan ala Korea.

Tipe Imut & Lucu Lebih Disukai
Enggak hanya masalah fisik, Korea juga punya tuntutan atau aturan tertentu tentang bagaimana karakater atau sifat cewek seharusnya. Di Korea cewek lebih disukai kalau punya karakter atau sifat lugu dan imut (innocent look dan cute). Korea memang masih punya stigma kalau cewek itu lebih baik enggak terlalu dominan atau bersikap malu-malu. Makanya lebih banyak seleb cewek Korea, khususnya Kpop idol cewek tampil dengan konsep atau imej imut, lugu dan malu-malu, daripada yang tampil sebagai cewek yang berani, cool, dan fierce. Meski pun ada beberapa yang berani tampil beda seperti Lee Hyori dan CL.  Makanya penting bagi cewek di Korea untuk punya aegyo (akting super imut) agar bisa disukai orang-orang atau banyak cowok khususnya.

 

Lihat saja girlband yang sekarang lagi trending atau hits banget di Korea seperti Twice dan GFriend, keduanya menampilkan imej imut dan lugu. Karena imej atau karakter cewek seperti itulah yang lebih disukai, daripada karakter yang berani, keren dan fierce. Atau lihat juga seleb-seleb cewek yang dianggap sebagai "Goddess" atau paling cantik di Korea. Ada Suzy yang dicap sebagai Nation First Love, IU sebagai Nation LIttle Sister atau Yoona dan Taeyeon SNSD yang dianggap sangat cantik dan patokan cewek yang sempurna. Mereka semua punya imej cewek yang manis, lugu dan 'baik-baik'.

 

Tapi ironisnya di balik keharusan terlihat imut dan lugu, si cewek ternyata harus bisa bertingkah seksi. Tapi seksinya harus diam-diam, soalnya kalau ada yang berani bertingkah atau punya imej seksi dan berani, umumnya mereka akan kembali dicaci sebagai bertindak enggak sopan atau enggak layak. Meskipun ada beberapa seleb cewek dengan imej seksi dan berani yang disukai di Korea seperti Hyuna dan Lee Hyori.

 

Contoh lainnya adalah ketika IU merilis lagu Twenty-three, di mana di dalamnya dia bercerita tentang tekanan bagi seleb cewek di Korea untuk tampil atau punya imej lugu dan imut kayak anak kecil, meskipun mereka aslinya sudah jadi cewek dewasa yang enggak mau lagi bersikap seperti itu. Tapi karena IU memakai pakaian seperti anak kecil di video klipnya, bukannya memunculkan wacana yang kritis soal tekanan tersebut, orang-orang malah menganggap IU sengaja memanfaatkan imej pedofil untuk menjual lagu-lagunya. Duh!

Double Standar
Double standar di sini maksudnya menerapkan standar aturan yang berbeda terhadap cewek dan cowok. Di mana cewek ada di posisi yang dirugikan. Misalnya kalau ada girlgroup yang melakukan koreografi seksi dengan pakaian yang seksi pasti akan banyak yang mencela dan menghina. Bilang mereka murahan, atau bilang mereka seperti pelacur. Intinya tindakan mereka dibilang sebagai tindakan yang melanggar norma dan enggak pantas. Sedangkan kalau ada boygroup yang menampilkan koreografi seksi bahkan buka baju di atas panggung, maka orang-orang akan memuji dan bilang mereka seksi juga keren. Seperti itulah, standarnya berbeda.

 

Atau bisa juga soal perilaku. Kalau ada seleb cewek yang lupa untuk bowing atau merunduk untuk hormat pada seniornya atau terlihat bete dan lelah saat tampil di sebuah acara di TV, para netizen akan langsung menghakimi dengan bilang mereka enggak sopan dan enggak tahu diri. Tapi kalau ada seleb cowok yang melakukan itu, maka fans atau netizen akan bilang kalau seleb tersebut lagi sakit atau lelah dan lain sebagainya.

 

Initinya jauh di dalam kehidupan masyarakat Korea, mereka sebenarnya masih menganut paham Confucianism atau Konfusianisme, di mana cowok dianggap lebih tinggi daripada cewek. Makanya, dalam dunia entertainment pun, seleb cowok punya keuntungan atau kebebasab lebih, di mana publik lebih bisa menerima ketika mereka melakukan kesalahan, sedangkan seleb cewek lebih mudah untuk dihakimi dan dicela saat mereka melakukan kesalahan, khususnya untuk soal penampilan fisik.

 

“Kebanyakan video Kpop menggambarkan cewek sebagai objek seks, termasuk para penyanyi cewek dan grup Kpop juga. Mereka banyak menjalani operasi plastik dan menari secara provokatif, tapi masih diharapkan untuk tetap memenuhi norma-norma Konfusianisme tentang perilaku seksual di dalam kehidupan pribadi mereka, sedangkan cowok bisa melakukan apa saja yang mereka mau,” ungkap Kevin Cawley, professor East Asian Studydi University College Cork di Irlandia.

Enggak Dapat Kesempatan yang Sama Dalam Pekerjaan
Cewek mendapatkan penilaian dan tuntutan yang lebih tinggi ketika mereka melamar pekerjaan. Ini kembali karena pengaruh ideologi Konfusianisme di mana cewek dianggap harus atau bertugas untuk mengurus rumah dan keluarga, sedangkan cowok harus jadi kepala keluarga dan bekerja. Akhirnya banyak perusahaan yang jadi ragu untuk mempekerjakan cewek atau mengangkat cewek sebagai pegawai tetap. Hal ini dikarenakan mereka percaya kalau pekerja cewek akan banyak yang mengundurkan diri setetelah mereka menikah dan punya anak. Bahkan biasanya dalam sesi wawancara, calon pekerja cewek selalu ditanya dengan detil soal rencana kapan mereka akan menikah dan punya anak. Kalau dalam jarak dekat, kemungkinan mereka enggak akan dipekerjakan. Hal ini pun akhirnya membuat Kementrian Tenaga Kerja Korea Selatan melarang para perusahan untuk menanyakan hal tersebut pada para pencari kerja cewek. Sayangnya memang pada kenyataannya, 22% cewek berhenti bekerja karena mempunyai anak dan 44% cewek berhenti bekerja setelah menikah.

 

Enggak hanya masalah kesempatan kerja, dalam hal gaji atau upah, Korea Selatan menempati posisi pertama untuk negara dengan wage gap (ketimpangan gaji/upa) antara pekerja cewek dan cowok paling tinggi di dunia. Di mana tentunya, cewek diberi gaji/upah jauh lebih rendah daripada cowok, meskipun jabatan atau posisi kerjanya sama. Berdasarkan Organisation for Economic Co-operation and Development  (OECD) dalam situsnya oced.org, ketimpangan penghasilan antara cewek dan cowok di Korea Selatan ini mencapai poin 36.60 melebihi Estonia di posisi kedua dengan poin 31.50, padahal Estonia adalah negara kecil di Eropa utara yang jauh belum maju kalau dibandingkan Korea. Hal ini jelas ironis, karena Korea Selatan memiliki presiden cewek dan termasuk negara sangat maju, tapi ternyata kesempatan kerja bagi cewek masih sangat sulit dan ketimpangan penghasilannya masih sangat tinggi.

Diskriminasi Gender dalam Hukum
Isu soal kestidaksetaraan gender antara cewek dan cowok di Korea juga berlaku di dunia hukum. Menurut Cang Pil Wha, direktur Asian Center for Women’s Studyioes di Ewha Womans University, Seoul, isu ini sudah jadi hal yang mengakar secara mental di masyarakat Korea. Contohnya aja soal kasus kerasan seksual dan pemerkosaan. Banyak kasus seperti ini dilupakan begitu saja hanya karena para jaksa di Korea didominasi oleh cowok. Mereka sering diyakinkan bahwa memberi hukuman yang parah pada cowok tersebut akan sangat memengaruhi kesempatan mereka untuk bisa bekerja dan hidup secara layak di masa depan padahal cowok itu diwajibkan jadi kepala keluarga. Contohnya dalam kasus kekerasan seksual yang dituduhkan pada Park Yoochun, aktor dan member JYJ yang kemungkinan besar akan dianggap enggak berasalah meskipun banyak cewek yang sudah melaporkannya.

 

Ternyata di balik megah dan gemerlapnya kehidupan industri hiburan di Korea juga kemajuan negara tersebut yang bisa dibilang sudah sangat maju dan modern, cewek masih mendapatkan banyak perlakuan yang enggak setara. Cewek juga masih dibebani tuntutan enggak realistis yang membuat mereka enggak berani atau enggak bebas untuk jadi diri sendiri. Tindakan body shaming, sexist (tindakan diskriminasi atau penghakiman negatif yang hanya didasarkan pada gender) dan mysogonist (tindakan yang membenci dan enggak mempercayai cewek) masih sangat sering dialami cewek di sana. Setelah tahu tentang hal ini, gimana pendapat kamu, girls? Ternyata hidup di Korea enggak sekeren dan seseru kelihatannya ya? Beri komen atau tanggapan kamu di kolom komentar ya! (Kawankumagz.com)

" />